Hari ini kami memulai perjalanan kecil yang terasa cukup spesial. Saya, istri, dan Muzkha berangkat ke Singkawang sejak pagi. Tujuan kami sederhana, tapi penuh makna: menyaksikan penampilan Najwa dan kawan-kawan dalam kompetisi marching band dalam rangka peringatan Hardiknas.
![]() |
| Drumb Band MTS Negeri 1 Mempawah |
Sebenarnya, perjalanan ini terasa sedikit berbeda karena Orlyn tidak ikut bersama kami. Ia memilih beristirahat di rumah karena baru tiba tengah malam sebelumnya. Ada sedikit rasa “kurang lengkap”, tapi kami memahami kondisinya. Akhirnya, kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan semangat, membawa harapan untuk melihat Najwa tampil maksimal.
![]() |
| Freddy dan Iman |
Sesampainya di lokasi acara di Singkawang, suasana sudah cukup ramai. Riuh suara peserta, penonton, dan panitia bercampur menjadi satu. Di tengah keramaian itu, saya bertemu dengan Pak Iman, rekan kantor saya.Ternyata, beliau juga datang dengan tujuan yang sama—menyaksikan anaknya yang kebetulan satu sekolah dengan Najwa, yaitu MTs Negeri 1 Mempawah. Rasanya menyenangkan bertemu wajah yang familiar di tempat seperti ini.
Namun, kami datang sedikit terlambat. Saat itu, undian kedua sudah dimulai, dan kebetulan itulah giliran sekolah Najwa tampil. Kami pun langsung bergegas menuju area penonton. Tanpa banyak waktu untuk menyesuaikan diri, saya segera merogoh handphone dari saku celana. Dengan sedikit tergesa, saya mencoba mengabadikan momen seadanya—sekadar untuk dokumentasi dan tentu saja bahan tulisan di blog ini.
![]() |
| Freddy, Endang, Najwa dan Muzkha |
Setelah pertunjukan mereka selesai, Najwa menghampiri kami. Wajahnya terlihat lelah, tapi juga memancarkan rasa puas dan bangga. Dari rautnya, saya bisa melihat bahwa ia telah memberikan yang terbaik. Kami pun berbincang ringan—tentang penampilannya, suasana lomba, dan hal-hal kecil yang ia rasakan di atas lapangan. Momen sederhana, tapi hangat.
![]() |
| Foto: Moment Menunggu Peserta lain Tampil dan Pengumuman |
Di lokasi Lomba, selain bertemu Pak Iman, saya juga bertemu dengan Pak Hendri, teman saya. Karena tempat dan waktu masih memberikan kami kesempatan untuk berbincang lebih lama, kami bertiga bergeser sebentar ke Cafe "GARIS" yang tak jauh dari lokasi kegiatan.
Setelah itu, kami menunggu pengumuman hasil lomba. Waktu terasa berjalan agak lambat. Semua peserta dan orang tua tampak menaruh harapan masing-masing. Ketika pengumuman akhirnya disampaikan, hasilnya tidak sesuai dengan harapan kami. Najwa dan timnya belum berhasil masuk tiga besar.
Ada rasa kecewa, tentu saja. Apalagi jika dibandingkan dengan event sebelumnya, di mana mereka berhasil meraih juara tiga. Namun, saya mencoba melihat ini dari sudut pandang yang lebih luas. Kemenangan memang menyenangkan, tapi kekalahan juga punya pelajaran yang jauh lebih dalam.
Menurut saya, ini bukan akhir dari segalanya. Justru di sinilah anak-anak belajar tentang arti usaha, ketekunan, dan menerima hasil dengan lapang dada. Mereka telah melalui proses latihan yang panjang, penuh disiplin, dan kerja keras. Kekalahan ini adalah bagian dari perjalanan itu—bagian yang akan membentuk mental mereka menjadi lebih kuat dan dewasa.
Hari ini mungkin bukan hari kemenangan bagi Najwa dan timnya. Tapi hari ini adalah hari belajar—tentang usaha, tentang harapan, dan tentang menerima kenyataan dengan sikap yang lebih bijak. Dan bagi saya sebagai orang tua, itu adalah pencapaian yang tidak kalah penting.





Komentar
Posting Komentar
Jangan ragu2 untuk komen apa saja. sebab komentar dan feedback dari kamu akan membuat semangat saya untuk menulis lagi :)