Ketika Sebuah Jawaban Dianggap Salah, dan Publik Memilih Bersuara

Hari itu istri saya memberi tahu bahwa ada sebuah postingan di Instagram resmi SMA Negeri 1 Pontianak tentang seorang siswi yang dianggap salah oleh juri dalam sebuah lomba cerdas cermat. Padahal, jika diperhatikan, jawabannya terdengar sama persis dengan peserta lain yang justru dinyatakan benar. Postingan tersebut dapat dilihat pada akun Instagram resmi sekolah di: Instagram SMA Negeri 1 Pontianak Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan postingan itu. Saya menganggap hal seperti ini mungkin saja terjadi dalam sebuah perlombaan. Bisa jadi juri salah mendengar di awal jawaban, ada faktor kelelahan, kurang fokus, atau hal-hal lain yang memang tidak terlihat oleh penonton ketika perlombaan berlangsung.

Jumat Pagi yang Berbeda: Ketika Kantor Jadi Lebih “Hidup”

Pagi itu suasana kantor terasa sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada yang langsung duduk di depan komputer, membuka aplikasi perizinan, atau menumpuk berkas di meja kerja. Justru sebaliknya—kami semua berkumpul di halaman kantor dengan pakaian yang lebih santai, sebagian sudah memegang alat kerja.

Kegiatan Bersih-Bersih Halaman Kantor

Arahan datang langsung dari Pak Kadis. Sederhana saja: 

"Assalamu'alaikum. Kawan2 hari ini kita bersih2 kantor. Jadi silahkan pakai pakaian olahraga 

Terima kasih"

Awalnya terdengar seperti kegiatan rutin yang biasa. Tapi begitu mulai berjalan, suasananya berubah jadi sesuatu yang lebih hidup.

Rumput di halaman kantor yang mulai tinggi dan liar akhirnya mendapat perhatian. Beberapa rekan langsung mengambil alat tebas dan mulai merapikan. Suara mesin pemotong rumput berpadu dengan canda ringan di antara kami. Ada yang serius bekerja, ada juga yang sesekali berhenti untuk sekadar bercanda.

Rumput yang sudah ditebas lalu dibakar

Di sisi lain, beberapa teman sibuk membersihkan saluran air. Lumpur yang mengendap, daun-daun kering, dan sampah kecil yang selama ini mungkin luput dari perhatian, satu per satu diangkat. Tangan kotor, sepatu basah, tapi entah kenapa terasa menyenangkan.

Ada juga yang mengumpulkan sampah-sampah kering untuk dibakar. Asap tipis mulai naik, membawa serta sisa-sisa daun dan ranting yang sebelumnya berserakan. Pemandangan yang sederhana, tapi memberi rasa lega—seolah-olah bukan hanya halaman kantor yang dibersihkan, tapi juga suasana hati.

Yang menarik, kegiatan seperti ini tanpa disadari menghapus sekat-sekat formal di kantor. Tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi batasan ruang kerja. Semua turun tangan. Semua berkeringat bersama.

Sebagai penata perizinan yang sehari-hari lebih banyak berkutat dengan dokumen, verifikasi, dan regulasi, momen seperti ini terasa segar. Ada jeda dari rutinitas yang penuh ketelitian dan tanggung jawab administratif. Diganti dengan kerja fisik yang sederhana, tapi nyata hasilnya.

Dan mungkin, justru di situlah letak nilainya.

Kebersihan kantor memang tujuan utamanya. Tapi kebersamaan yang terbangun, itu bonus yang tidak ternilai.

Menjelang siang, halaman kantor terlihat jauh lebih rapi. Rumput sudah tertata, saluran air kembali lancar, dan sampah tidak lagi berserakan. Kami kembali ke dalam kantor, sebagian membersihkan diri, sebagian lagi bersiap untuk melanjutkan aktivitas.

Jumat kali ini terasa berbeda.

Lebih ringan. Lebih hangat. Dan entah kenapa, lebih bermakna.

Komentar