Ketika Sebuah Jawaban Dianggap Salah, dan Publik Memilih Bersuara

Hari itu istri saya memberi tahu bahwa ada sebuah postingan di Instagram resmi SMA Negeri 1 Pontianak tentang seorang siswi yang dianggap salah oleh juri dalam sebuah lomba cerdas cermat. Padahal, jika diperhatikan, jawabannya terdengar sama persis dengan peserta lain yang justru dinyatakan benar.

Postingan tersebut dapat dilihat pada akun Instagram resmi sekolah di:

Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan postingan itu. Saya menganggap hal seperti ini mungkin saja terjadi dalam sebuah perlombaan. Bisa jadi juri salah mendengar di awal jawaban, ada faktor kelelahan, kurang fokus, atau hal-hal lain yang memang tidak terlihat oleh penonton ketika perlombaan berlangsung.

Namun ada satu hal yang membuat saya akhirnya terdorong untuk menuliskan opini ini di blog: berita tersebut ternyata berkembang menjadi viral. Menyebar cepat ke mana-mana. Bahkan ujungnya sampai mendapat perhatian dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang kemudian meminta agar lomba tersebut diulang.

Mengapa hal ini bisa menjadi begitu viral?

Menurut saya, karena publik merasa ada sesuatu yang menyentuh rasa keadilan bersama. Banyak orang yang mungkin tidak mengenal siswi tersebut secara pribadi, tetapi mereka bisa merasakan keganjilan yang sama ketika melihat tayangan itu. Rasa peduli itu kemudian berubah menjadi rasa geram.

Situasi makin memanas ketika muncul pernyataan dari pembawa acara yang terkesan menganggap bahwa jawaban siswi tersebut benar hanya menurut perasaannya saja. Menurut saya, kalimat seperti itu seharusnya tidak perlu dilontarkan oleh seorang MC dalam situasi yang sensitif.

Sebenarnya cukup sederhana. Tinggal menyampaikan bahwa keputusan juri bersifat mutlak. Karena memang biasanya hal itu sudah diatur dalam tata tertib perlombaan. Selesai.

Tetapi ketika muncul komentar tambahan yang justru terkesan meremehkan keberatan peserta, publik akhirnya ikut bereaksi.

Hal lain yang ikut memancing perhatian netizen adalah ketika ada penjelasan mengenai artikulasi jawaban yang dianggap kurang jelas. Padahal, bagi banyak penonton, jawaban siswi tersebut terdengar cukup jelas. Di titik inilah publik mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Reaksi netizen pun semakin besar, hingga akhirnya kasus ini terus menyebar dan menjadi viral.

Saya sendiri sebenarnya punya kedekatan emosional dengan sekolah ini. Saya adalah alumni SMA Negeri 1 Pontianak lulusan tahun 1998. Melihat keberanian adik kelas yang berani menyampaikan protes di hadapan juri, saya justru merasa terharu dan bangga sebagai alumni.

Saya bangga, Dik. Kamu berani menyampaikan keberatan dengan cara yang tetap santun. Itu bukan sikap melawan. Itu adalah keberanian untuk memperjuangkan apa yang menurutmu benar. Dan keberanian seperti itu penting dimiliki oleh generasi muda.

Tetap semangat untuk lomba-lomba berikutnya ya. Kadang dalam hidup, bukan hanya kemenangan yang membuat orang dihargai. Tetapi juga keberanian untuk berdiri ketika merasa diperlakukan tidak adil.

Siapa tahu nanti kisah ini benar-benar ditayangkan di televisi nasional. Karena kadang sebuah lomba cerdas cermat bukan lagi sekadar soal jawaban benar atau salah, tetapi juga tentang bagaimana publik belajar memahami arti keadilan, sportivitas, dan keberanian bersuara.

Komentar