Main Tamiya dan Sakit Pinggang

Rencananya, hari Minggu, 4 Oktober 2026, saya dan Muzkha ingin bermain Tamiya Mini4WD.

Kebetulan, ada Grup Pecinta Mini4WD Mempawah yang sedang memasang track Tamiya di salah satu gedung yang dipinjam untuk tempat bermain. Sebelumnya, track tersebut pernah dipasang di rumah Bro Agung, tempat kami beberapa bulan lalu bermain bersama. Jauh sebelumnya, track yang sama juga pernah dipasang di Kantor Kelurahan.

Muzkha, Fajar dan Track Tamiya

Minggu pagi pun tiba. Saya sudah membuat janji dengan Fajar, yang kebetulan memegang kunci gedung. Saya meminta izin untuk bermain Tamiya pagi itu. Melalui WhatsApp, saya mengirim pesan singkat: "Jam 9, saya akan datang ke sana." Tidak lama kemudian Fajar membalas dan mengiyakan. 

Membersihkan Track

Ketika saya dan Muzkha tiba, pintu gedung sudah dibuka oleh Fajar. Karena gedung tersebut sudah cukup lama tidak digunakan, kondisi track ternyata agak berdebu. Beberapa sambungan track juga terlihat terlepas. Mau tidak mau, sebelum bermain kami harus membersihkan dan merapikan track terlebih dahulu.

Tidak lama kemudian, Bro Agung datang dan ikut menemani. Kami pun bersama-sama membersihkan track dan memastikan sambungan-sambungannya kembali terpasang dengan baik. Setelah semuanya dirasa cukup siap, akhirnya kami bisa mulai bermain.

Jam menunjukkan sekitar pukul 09.35. Dalam pikiran saya waktu itu sederhana saja. "Mulai turun dari rumah jam 9, paling selesai sekitar jam 12. Cukuplah tiga jam untuk sekadar memanaskan mesin Tamiya." Ternyata, perkiraan saya tidak sepenuhnya benar. 

Dari Jam 9 Sampai Ashar. Waktu ternyata berjalan begitu cepat kalau sudah bermain Tamiya. Tanpa terasa, jam di handphone sudah menunjukkan pukul 12 siang. Perut mulai terasa lapar. Adzan Zuhur juga sudah berkumandang.

Sudah waktunya berhenti. Rencana saya adalah pulang, salat, makan siang, kemudian istirahat di rumah.

Tetapi Muzkha ternyata masih ingin bermain.

"Belum puas, Pah..." Begitu kira-kira semangatnya. Padahal, saat itu pinggang saya mulai terasa sakit. Saya sebenarnya sudah ingin berbaring di rumah dan beristirahat. Namun, rasa ingin bermain Muzkha ternyata lebih kuat daripada rasa sakit pinggang saya. Setelah makan siang, kami kembali lagi ke gedung. Lagipula, perlengkapan Tamiya kami juga masih berada di sana.

Permainan pun dilanjutkan. Satu race, lanjut race berikutnya. Coba setting ini, coba setting itu. Begitu terus sampai akhirnya adzan Ashar berkumandang. Barulah kami benar-benar berhenti.

Pinggang Mulai Menyerah

Sesampainya di rumah, badan terasa sangat lelah. Dan yang paling terasa adalah pinggang. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Saya kemudian mandi dan berpikir, mungkin setelah tidur malam nanti kondisi akan lebih baik. "Besok pasti sudah enakan." Ternyata saya salah. Hari Senin berlalu, rasa sakit masih ada. Selasa juga belum banyak perubahan. Dan hari ini, Rabu, pinggang saya masih terasa sakit. Bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja cukup sulit.

Sampai akhirnya saya terpaksa meminta izin kepada Kepala Dinas dan Koordinator untuk tidak masuk kantor. Untuk sementara saya bekerja dari rumah sambil beristirahat.

Tamiya Memang Menyenangkan, Tapi...

Kalau dipikir-pikir, bermain Tamiya memang menyenangkan. Apalagi kalau bermain bersama anak seperti Muzkha. Rasanya sulit mengatakan, "Sudah, pulang saja." ketika melihat dia masih bersemangat mencoba mobilnya di track.

Tetapi tubuh ternyata punya batas. Tiga jam bermain Tamiya yang awalnya saya pikir hanya untuk "memanaskan mesin", ternyata berubah menjadi hampir seharian. Sekarang saya baru sadar, bukan cuma mesin Tamiya yang perlu diperhatikan setting-nya.

Badan sendiri juga perlu di-setting. Jangan sampai karena terlalu asyik mengejar setting mobil, kita lupa melakukan setting untuk tubuh sendiri. 😄 Semoga sakit pinggang ini segera hilang dan saya bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Dan tentu saja...

semoga setelah sembuh nanti, saya masih boleh bermain Tamiya lagi.

Aamiin.

Komentar