Setelah kegiatan bersih-bersih dikantor, Saya memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar. Pakaian yang saya kenakan sudah basah oleh keringat setelah cukup lama ikut membersihkan halaman kantor. Rasanya kurang pantas jika langsung menemui tamu dalam kondisi seperti itu.
Sesampainya di rumah, saya mengganti pakaian. Badan terasa jauh lebih segar. Saya sempat duduk sejenak, menarik napas, menikmati jeda singkat setelah aktivitas fisik pagi itu.
Belum sempat benar-benar lama beristirahat, ponsel saya kembali berdering. Kali ini dari Pak Iwan, rekan kerja saya. Nada suaranya terdengar lebih serius, seolah ingin memastikan bahwa informasi yang tadi disampaikan benar-benar mendapat perhatian.
Momen rehat yang tadinya terasa tenang, seketika berubah menjadi panggilan untuk kembali bergerak. Dari halaman kantor yang penuh rumput dan tanah, ke rumah untuk sekadar membersihkan diri, lalu bersiap kembali menuju ruang pelayanan publik hari itu terasa seperti rangkaian adegan yang bergerak cepat.
Bergegas menuju Mal Pelayanan Publik (MPP).
Kehadiran tamu, apalagi dari instansi seperti imigrasi tentu tidak bisa dianggap hal biasa. Dalam dunia pelayanan publik, momentum seperti ini sering datang tanpa pemberitahuan panjang. Dan justru di situlah letak tantangannya: bagaimana tetap sigap, meskipun sedang berada di situasi yang tidak “formal”.
Perjalanan singkat menuju MPP terasa seperti perpindahan suasana yang cepat. Dari halaman kantor yang penuh aktivitas fisik, menuju ruang pelayanan yang menuntut kesiapan, komunikasi, dan koordinasi.
Di benak saya mulai muncul berbagai kemungkinan:
Apakah ini kunjungan koordinasi?
Penjajakan layanan?
Atau justru tindak lanjut dari rencana sebelumnya?
Yang jelas, satu hal yang pasti pelayanan tidak mengenal waktu yang “sempurna”. Ia datang kapan saja, dan kita harus siap.
Komentar
Posting Komentar
Jangan ragu2 untuk komen apa saja. sebab komentar dan feedback dari kamu akan membuat semangat saya untuk menulis lagi :)