Di dalam pertemuan saya dengan Pak Dwi, perwakilan dari pihak imigrasi yang datang ke MPP (Mal Pelayanan Publik), kami sempat berbincang singkat mengenai maksud kedatangannya. Tidak lama, beliau menyampaikan bahwa sore hari, sekitar pukul tiga, akan datang kembali ke kantor.
![]() |
| Foto Bersama sebelum Pamit |
Informasi itu sederhana. Tapi dampaknya langsung terasa di kepala saya. Sore pukul tiga. Di saat yang sama, saya sudah punya janji. Bukan janji biasa, tapi rencana yang sudah disusun sebelumnya: pergi ke Singkawang, ke rumah Pak Iwan, untuk halal bihalal bersama rekan-rekan kantor.
Saya sempat terdiam. “Kalau semua ke Singkawang… siapa yang akan menemui Pak Dwi di MPP?” Pertanyaan itu terus berputar di pikiran saya. Di satu sisi, ada tanggung jawab pelayanan. Di sisi lain, ada kebersamaan yang juga penting untuk dijaga.
Akhirnya, hal itu saya sampaikan kepada Pak Kadis. Respon beliau singkat, tapi tegas. Tanpa banyak pertimbangan panjang yang terlihat di permukaan, beliau memutuskan untuk membatalkan rencana ke Singkawang. Sebuah keputusan yang sederhana, tapi sarat makna.
Di situ saya melihat kembali bagaimana prioritas dalam pelayanan publik seharusnya ditempatkan. Bahwa ada hal-hal yang memang harus didahulukan, meskipun itu berarti mengorbankan agenda pribadi atau kebersamaan. Namun, roda hari itu terus berjalan.
Selepas sholat Jumat, saya bersama istri dan Muzkha tetap berangkat menuju Singkawang, ke rumah Pak Iwan. Perjalanan kali ini terasa sedikit berbeda, mungkin karena sebelumnya sudah diwarnai dengan dinamika yang tidak terduga.
Kami sempat cukup lama mencari alamat rumahnya. Maklum, ini adalah kunjungan pertama kami ke sana. Berbekal Google Maps, kami menyusuri jalan demi jalan, sesekali memperlambat kendaraan untuk memastikan titik yang dituju benar.
Akhirnya, kami sampai. Begitu turun dari kendaraan, saya langsung disambut oleh Pak Iwan dengan hangat. Senyum yang khas, seolah semua lelah perjalanan langsung terbayar. Ternyata, kami bukan yang pertama datang. Di dalam rumah sudah ada Dini, bersama suaminya Sholeh, dan anak perempuan mereka yang lucu. Suasana sudah mulai terasa hidup, meskipun belum terlalu ramai.
Waktu berjalan. Baru saja kami lepas dari sholat Ashar, satu per satu rekan kantor mulai berdatangan. Derry, Wulan, Maulana, Isnaini, Lely, dan Kia.
Tak lama kemudian, Nina menyusul bersama suami dan kedua anaknya. Rumah Pak Iwan yang tadi terasa hangat, kini berubah menjadi lebih meriah. Suara obrolan bersahut-sahutan, tawa anak-anak, dan canda antar rekan kerja menyatu menjadi suasana yang akrab.
Kami duduk bersama, menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Ada menu spesial hari itu: nasi hangat dengan sayur asam pedas buatan Pak Iwan. Rasanya segar, sedikit asam dengan sentuhan pedas yang pas. Ditambah dengan tempe bacem dan telur, sederhana tapi terasa istimewa—mungkin karena dimakan bersama-sama.
Di tengah kebersamaan itu, percakapan mengalir tanpa terasa. Tidak ada lagi sekat formal seperti di kantor. Semua menjadi lebih cair, lebih manusiawi.
Momen seperti ini selalu punya tempat tersendiri. Di luar rutinitas pekerjaan yang penuh tanggung jawab, ada ruang-ruang kecil seperti ini yang justru menguatkan hubungan. Bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai sesama manusia yang berbagi cerita, tawa, dan waktu.
Menjelang magrib, kami pun pamit. Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Hari itu, sejak pagi hingga sore, dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang datang silih berganti, dari kerja bakti, kedatangan tamu imigrasi, keputusan penting dari pimpinan, hingga kebersamaan di rumah Pak Iwan.
Dan entah kenapa, semuanya terasa menyatu. Sebuah Jumat yang sederhana, tapi penuh cerita.

Komentar
Posting Komentar
Jangan ragu2 untuk komen apa saja. sebab komentar dan feedback dari kamu akan membuat semangat saya untuk menulis lagi :)